Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Beberapa waktu yang lalu, laptop saya rusak. Jadi, baru bisa buat postingan lagi sekarang.
Dan untuk menepati janji saya untuk rajin ngeblog, kali ini saya mau berbagi tulisan tentang salah satu bagian dari mimpi besar saya. Yaitu, menjadi seorang perancang busana.
Sejak duduk di bangku SD (saya tidak ingat jelasnya saat kelas berapa) sampai sekarang, saya memiliki hobi membuat desain pakaian. Entah berawal dari mana dan terinspirasi oleh siapa, saya jadi suka menggambar berbagai macam model pakaian. Mulai dari pakaian sehari-hari, sampai gaun pesta. Mungkin saja, ini adalah efek samping dari terlalu seringnya bermain Barbie dan BP-BPan di masa itu. Tapi itu hanya mungkin. Yang sebenarnya, saya juga tidak tahu pasti. Mungkin ini sudah panggilan hati. *oke, ini agak lebay* Tapi serius, saat itu, semuanya terjadi begitu saja.
Sebelumnya, saya tidak punya cita-cita untuk menjadi seorang fashion designer. Impian saya ketika itu adalah menjadi seorang KOWAD (Komandan Wanita Angkatan Darat). Jauh banget, kan? Tapi, sejak suka gambar model-model baju –yang secara tiba-tiba itu, mimpi untuk menjadi KOWAD pun menguap begitu saja. Jadi, hobi saya dalam bidang ini bukan berawal dari keinginan untuk menjadi fashion designer. Melainkan sebaliknya. Bermula dari hobi yang berlanjut menjadi mimpi. Dan, dari mimpi itulah saya mulai menekuni hobi saya dalam membuat desain-desain pakaian.
Beranjak remaja, saya sempat merasa malu memiliki cita-cita menjadi seorang perancang busana. Bukannya apa-apa. Tapi, saya ini bukan seseorang yang ahli menggambar. Sedangkan, cita-cita saya itu, cukup erat hubungannya dengan dunia gambar-menggambar. Lha, saya? Tarikan-tarikan garis dalam setiap desain pakaian saya saja masih sangat kaku. Model-model pakaian yang saya buat, ketika itu, juga masih polos. Hanya mengikuti model yang sudah ada dan menambahnya dengan hiasan-hiasan bunga atau pita. Tapi syukurnya, perasaan malu itu hanya sekilas. Tekad saya terlalu kuat untuk dirobohkan. Tidak bisa menggambar, toh, bisa belajar. Lagipula, di dunia ini tidak ada orang yang bisa sukses hanya dengan modal bakat. Semuanya harus melalui proses pengasahan. Orang yang memiliki bakat tapi tidak pernah diasah, akan kalah dengan orang yang tidak berbakat tapi terus belajar. (Ini menurut saya, lho, ya).
Seiring dengan berjalannya waktu, desain-desain saya pun mulai mengalami perkembangan. Kecenderungan saya dalam membuat desain pakaian wanita, membuat saya mengambil keputusan untuk fokus di gender ini. Dan berhubung saya seorang muslimah, jadi saya hanya membuat desain baju-baju muslim. Suatu ketika, saya mencoba membuat baju ke penjahit dengan menggunakan desain sendiri. Walaupun masih sangat sederhana, tapi beberapa teman saya menyukainya. Itu pertanda yang cukup bagus untuk seorang amatiran seperti saya. Saya pun menjadi semakin semangat untuk terus berinovasi.
Menginjak SMA, saya menjadi semakin kritis terhadap karya-karya saya. Masih banyak sekali kekurangan yang harus saya perbaiki. Tidak tahu harus berguru pada siapa, saya pun mulai mencari- cari di Google tentang cara-cara membuat desain pakaian yang benar. Dan, akhirnya, saya menemukan satu faktor yang membuat desain-desain saya selama ini tidak enak dipandang: saya tidak pernah menggambar orang sebelum membuat desain pakaian. Sehingga, ukurannya jadi tidak pas dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya. Sejak itu, saya selalu membuat gambar orang sebelum membuat desain. Tapi, karena saya tidak ahli menggambar, jadi saya hanya membuat bentuk kepala dan leher saja. Posisi tubuh, tangan dan kaki saya biarkan seperti orang yang sedang berdiri tegak. Dan, Alhamdulillah, itu saja sudah sangat merubah bentuk desain yang saya buat.
Tidak puas sampai di situ, saya mencari aplikasi termudah untuk membuat desain pakaian untuk komputer. Dari sekian aplikasi yang saya temukan, saya menjatuhkan pilihan pada Edraw Max 7.9. Karena, penggunaannya cukup mudah dan sudah disertai beberapa model pakaian yang bisa kita modifikasi. Berikut percobaan saya mendesain pakaian menggunakan Edraw Max 7.9.
Tarikan-tarikan garisnya masih kasar dan belum rapi. Ini disebabkan oleh 2 faktor. Pertama, saya belum terbiasa dengan aplikasinya. Kedua, memang dasarnya saya tidak ahli menggambar. Jadi, begitulah hasilnya. Sederhana dan apa adanya. Tapi, saya yakin, semakin dilatih, desain-desain saya akan semakin berkembang.
Oke, sepertinya saya terlalu asyik curhat. Postingan ini juga sudah terlampau panjang. Jadi, sampai di sini dulu, ya. Lain waktu, insyaAllah, saya akan membahas soal penggunaan Edraw Max 7.9.
0 comments:
Posting Komentar