
Sebelumnya saya mau bilang kalau saya bukan orang yang ahli dalam urusan politik atau hal-hal lain yang berkaitan dengan politik. Tapi, postingan ini saya tulis sebagai seorang remaja yang cinta Tanah Air.
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia disibukkan oleh masa-masa kampanye, pemilihan presiden, ribut soal quick count, deg-degan nunggu real count sampai mendengar hasil keputusan KPU kemarin (22/7/2014).
Yang mau saya bahas di sini bukan masalah kemenangan JW-JK atau keputusan Prabowo-Hatta yang menolak hasil KPU. Saya hanya mau memberikan opini saya mengenai kenyataan yang terjadi di lingkungan saya sendiri selama masa PEMILU.
Jujur saya tinggal di sebuah tempat di Bekasi di mana sebagian besar penduduknya adalah para pedagang kaki lima dan pemulung. Nah, di daerah saya ini kebanyakan warganya memilih pasangan capres-cawapres no. X. Sampai-sampai di semua gerobak dagangan mereka terbentang jelas spanduk capres tersebut. Saya tidak banyak mengomentari hal tersebut. Wajar saja, mungkin mereka memang memilih pasangan itu. Komentar saya dalam hati.
Namun, usut punya usut, selama masa kampanye kemarin, seperti biasa, para Ibu-ibu ngerumpiin
masalah siapa capres mereka bla, bla, bla, termasuk Ibu saya juga. Dan dari hasil rumpi tersebut Ibu saya mendapat informasi bahwa mereka (para pedagang kaki lima dan pemulung) dapet uang sebesar TIGA PULUH RIBU RUPIAH, cetak tebal garis bawah, dari salah satu tim sukses capres- cawapres. Mendengar berita itu, saya sebagai warga yang meyakini bahwa hak suara itu tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apapun, merasa sangat kecewa dengan adanya money politic dalam ajang pesta demokrasi yang kali ini menentukan siapa pemimpin Bangsa kita untuk ke depan. Suara yang nantinya menentukan masa depan Indonesia dapat dibeli dengan harga semurah itu. Istighfar 100 kali!
Tapi, saya tidak mau berburuk sangka dengan menyalahkan jika acara bagi-bagi uang tiga puluh ribu itu adalah perintah sang capres tersebut. Saya percaya bahwa kedua capres-cawapres kita adalah orang-orang yang cukup mengerti untuk tidak melakukan hal tersebut. Money politic yang terjadi di daerah saya bisa jadi memang akal-akalan tim sukses 'cabang terbawah' tanpa sepengetahuan sang capres.
Pada saat hari pemilihan (9/7/2014), benar saja, capres yang tim-sesnya bagi-bagi uang itu ternyata suaranya unggul. Tapi, sekali lagi saya tidak mau berburuk sangka, dari keseluruhan pemilih yang memilih capres tertentu tersebut bisa saja memilih memang karena dia tahu bahwa capres tersebut layak menjadi pemimpin -bukan karena uang yang sudah di tangan. Kita tak pernah tahu isi hati seseorang. Yang jelas dalam pemilu kali ini memang nyata terjadi adanya jual-beli suara, sesuatu yang sangat tidak diharapkan terjadi dalam pesta demokrasi sebesar ini.
Uang memang segalanya. Sehingga mereka yang mau menerima uang tersebut biasanya tidak peduli bagaimana nantinya kalau si X menang atau
kalah pemilu. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah "Tuh kan, belum
kepilih aja inget sama kita. Apalagi nanti kalau udah jadi, pasti kita
lebih makmur." kurang lebih seperti itu. Pikiran-pikiran semacam itulah yang harus kita bersihkan dari otak rakyat Indonesia. Semua rakyat Indonesia harus mengerti kalau suara itu tidak bisa dibeli. Sehingga tujuan dari demokrasi itu sendiri bisa tercapai seutuhnya.
Kesucian demokrasi Indonesia seakan ternodai oleh adanya kegiatan semacam itu. Saya harap ke depannya, baik dalam pemilihan apa pun dan di mana pun, tidak ada lagi yang namanya membayar untuk menang. Dan untuk itu, ke depannya mungkin harus lebih di perhatikan untuk mensosialisasikan masalah money politic ini kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. Bukannya saya merendahkan pengetahuan mereka, tapi kenyataan yang ada di masyarakat kita saat ini memang begitu. Uang memang lebih berarti bagi mereka.
Semoga kita bisa menjadi warga negara yang lebih baik untuk ke depannya ^_^