Masa Bhakti 1: Bad Teacher

       Kali ini, gue mau cerita tentang suka duka gue ngajar di satu SD Negeri di daerah Bekasi Timur selama tahun ajaran 2014-2015 kemaren.

     Jadi, ceritanya setelah lulus MA di tahun 2014 kemaren, gue nggak bisa langsung kuliah. Soalnya, gue masih terikat kontrak –sebut aja begitu- pendidikan sama pondok tempat gue menimba ilmu.

     FYI, setelah lulus SD, gue nggak ngelanjutin pendidikan di SMP atau MTs kayak kebanyakan temen gue. Tapi, gue masuk ke sebuah pondok pesantren modern di daerah Bandung. Nah, di pondok itu, program pendidikannya  adalah TMI (Tarbiyatul Mu’allimiin wal Mu’alimaat Al-Islamiyyah) yang harus ditempuh selama 7 tahun (3 tahun MTs, 3 tahun MA dan 1 tahun masa bhakti). Sama kayak di Gontor yang program pendidikannya juga 7 tahun. Tapi, yang di gontor itu namanya KMI (Kuliyyatul Mu’allimiin wal Mu’allimaat Al-Islamiyyah). KMI ini –kalo ga salah- satu tingkat di atas TMI. Gue kurang paham juga, sih, di mana letak perbedaannya. Intinya, abis lulus UN MA, gue harus ngejalanin tugas “masa bhakti” dulu. Begitu!

     Waktu pembagian tugas masa bhakti, gue sama seorang temen gue kebagian di sebuah sekolah di daerah banjaran. Tapi, gara-gara di akhir MA gue sakit-sakitan, jadi gue ditarik sama orangtua gue buat ngelaksanain tugas masa bhaktinya di Bekasi aja, di SD tempat Ibu gue ngajar dan tempat gue pernah sekolah juga sampe kelas 3 SD. Akhirnya, gue pun nurut dan Ibu gue nemuin gue sama kepala sekolah di SD itu. Setelah basa-basi ini itu, akhirnya, gue ditugasin ngajar bahasa Inggris dari kelas 1-3.

     Di awal-awal semester, gue masih lumayan semangat ngajar. Gue nyiapin perlengkapan ngajar, baca-baca materi yang bakal gue ajarin, main games di kelas, dll. Tapi, makin kesini, gue malah jadi stress sendiri. Kenapa? Soalnya pertama, rata-rata anak di usia kelas segitu ngeyel-ngeyel banget. Gue nggak suka dingeyelin. Apalagi, gue juga kurang suka ada di lingkungan anak-anak, yang gue harus  bertanggung jawab di dalamnya.

     Kedua, menurut gue, mereka itu nggak sopan banget. Nggak bisa ngebedain mana guru mana temen. Soalnya, gue terbiasa dengan lingkungan di pondok gue, di mana murid sangat menghargai guru. Malah dalam beberapa kasus, murid bakal ngerasa bersalah banget kalo nggak merhatiin guru. Tapi, ini bukan berarti gue pengen dihargain juga, sih. Gue cuma nggak terbiasa aja sama lingkungan sekolah luar yang begitu. Di tambah gue juga nggak ada passion di bidang ini. Jadinya susah banget buat ngendaliin diri. Dan akhirnya, gue jadi ngajar seadanya, ngejelasin seadanya, ngasih tugas, meriksa tugas (sering juga nggak diperiksa) dan jadi sering marah-marah di kelas (yang mereka pun nggak peduli kalo gue marah) dan, mungkin, dianggep guru yang nyebelin juga kali, ya.

     Tapi, selama setahun ngajar gue juga nggak stress terus, sih. Banyak juga enaknya. Kayak, sering diajak makan-makan sama guru di sana hehe, dapet bonus-bonus gajih, dan masih banyak lagi. Pernah juga diajak karaoke gara-gara boring di sekolah ga ada kerjaan haha. Pokoknya, di luar ngajar, everything is OK. Tapi kalo udah masuk kelas, berubah jadi monster lagi.

Antara “Saya” dan “Gue”

      Assalamu’alaikum….?!

     Setelah kurang lebih 7 bulanan, akhirnya sekarang gue bisa mulai ngeblog lagi. Hmmm… lumayan lama juga, ya. Padahal, beberapa bulan ke belakang, gue nggak sibuk-sibuk banget. Dan hidup gue juga nggak lurus-lurus aja. Malahan, selama 7 bulan ini, banyak kejadian-kejadian yang berharga banget buat gue. Cuma, guenya aja yang nggak mau ngeluangin waktu.

     Dan sekalinya ada waktu, tiba-tiba gue malah jadi nggak pede gitu sama tulisan gue. Postingan gue yang sebelum-sebelumnya juga kayaknya terlalu kaku dan nggak banget, deh. Kesannya gue jadi lebih tua beberapa tahun dari umur asli gue. Tapi, kalo gue mau ganti gaya tulisan, gue bingung juga harus gimana. Jadilah blog gue nganggur panjang untuk kesekian kalinya...


      Sampe akhirnya, sekarang gue mulai ngepost lagi dengan penggunaan kata ganti orang pertama yang beda dari postingan-postingan gue sebelumnya. Kalo sebelumnya gue pake “saya”, maka sekarang gue ganti pake “gue”. Dan gue pake kata-kata yang lebih santai lagi. Biar lebih fresh dan –menurut gue-lebih enak dibaca juga. Kenapa? Soalnya, selama ini kalo gue baca blog orang, gue lebih betah dan enjoy aja nikmatin tulisan mereka yang pake “gue”. Dibanding dengan mereka yang pake “saya” (setuju nggak?). Tapi, itu bukan berarti blog yang pake “saya” tulisannya ngebosenin, ya. Karena, soal ngebosenin atau nggak itu balik lagi ke isi postingannya.

     Oke, intinya dari postingan ini adalah perubahan kata ganti pertama yang gue pake buat blog gue. Dan soal apa aja yang udah gue lewatin selama 7 bulan ini, bakal gue bahas nanti. See ya!!!

Merajut Hobi Menjadi Mimpi


Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Beberapa waktu yang lalu, laptop saya rusak. Jadi, baru bisa buat postingan lagi sekarang. 
Dan untuk menepati janji saya untuk rajin ngeblog, kali ini saya mau berbagi tulisan tentang salah satu bagian dari mimpi besar saya. Yaitu, menjadi seorang perancang busana. 

   Sejak duduk di bangku SD (saya tidak ingat jelasnya saat kelas berapa) sampai sekarang, saya memiliki hobi membuat desain pakaian. Entah berawal dari mana dan terinspirasi oleh siapa, saya jadi suka menggambar berbagai macam model pakaian. Mulai dari pakaian sehari-hari, sampai gaun pesta. Mungkin saja, ini adalah efek samping dari terlalu seringnya bermain Barbie dan BP-BPan di masa itu. Tapi itu hanya mungkin. Yang sebenarnya, saya juga tidak tahu pasti. Mungkin ini sudah panggilan hati. *oke, ini agak lebay* Tapi serius, saat itu, semuanya terjadi begitu saja. 
   Sebelumnya, saya tidak punya cita-cita untuk menjadi seorang fashion designer. Impian saya ketika itu adalah menjadi seorang KOWAD (Komandan Wanita Angkatan Darat). Jauh banget, kan? Tapi, sejak suka gambar model-model baju –yang secara tiba-tiba itu, mimpi untuk menjadi KOWAD pun menguap begitu saja. Jadi, hobi saya dalam bidang ini bukan berawal dari keinginan untuk menjadi fashion designer. Melainkan sebaliknya. Bermula dari hobi yang berlanjut menjadi mimpi. Dan, dari mimpi itulah saya mulai menekuni hobi saya dalam membuat desain-desain pakaian.
   Beranjak remaja, saya sempat merasa malu memiliki cita-cita menjadi seorang perancang busana. Bukannya apa-apa. Tapi, saya ini bukan seseorang yang ahli menggambar. Sedangkan, cita-cita saya itu, cukup erat hubungannya dengan dunia gambar-menggambar. Lha, saya? Tarikan-tarikan garis dalam setiap desain pakaian saya saja masih sangat kaku. Model-model pakaian yang saya buat, ketika itu, juga masih polos. Hanya mengikuti model yang sudah ada dan menambahnya dengan hiasan-hiasan bunga atau pita. Tapi syukurnya, perasaan malu itu hanya sekilas. Tekad saya terlalu kuat untuk dirobohkan. Tidak bisa menggambar, toh, bisa belajar. Lagipula, di dunia ini tidak ada orang yang bisa sukses hanya dengan modal bakat. Semuanya harus melalui proses pengasahan. Orang yang memiliki bakat tapi tidak pernah diasah, akan kalah dengan orang yang tidak berbakat tapi terus belajar. (Ini menurut saya, lho, ya).
   Seiring dengan berjalannya waktu, desain-desain saya pun mulai mengalami perkembangan. Kecenderungan saya dalam membuat desain pakaian wanita, membuat saya mengambil keputusan untuk fokus di gender ini. Dan berhubung saya seorang muslimah, jadi saya hanya membuat desain baju-baju muslim. Suatu ketika, saya mencoba membuat baju ke penjahit dengan menggunakan desain sendiri. Walaupun masih sangat sederhana, tapi beberapa teman saya menyukainya. Itu pertanda yang cukup bagus untuk seorang amatiran seperti saya. Saya pun menjadi semakin semangat untuk terus berinovasi.
   Menginjak SMA, saya menjadi semakin kritis terhadap karya-karya saya. Masih banyak sekali kekurangan yang harus saya perbaiki. Tidak tahu harus berguru pada siapa, saya pun mulai mencari- cari di Google tentang cara-cara membuat desain pakaian yang benar. Dan, akhirnya, saya menemukan satu faktor yang membuat desain-desain saya selama ini tidak enak dipandang: saya tidak pernah menggambar orang sebelum membuat desain pakaian. Sehingga, ukurannya jadi tidak pas dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya. Sejak itu, saya selalu membuat gambar orang sebelum membuat desain. Tapi, karena saya tidak ahli menggambar, jadi saya hanya membuat bentuk kepala dan leher saja. Posisi tubuh, tangan dan kaki saya biarkan seperti orang yang sedang berdiri tegak. Dan, Alhamdulillah, itu saja sudah sangat merubah bentuk desain yang saya buat.
   Tidak puas sampai di situ, saya mencari aplikasi termudah untuk membuat desain pakaian untuk komputer. Dari sekian aplikasi yang saya temukan, saya menjatuhkan pilihan pada Edraw Max 7.9. Karena, penggunaannya cukup mudah dan sudah disertai beberapa model pakaian yang bisa kita modifikasi. Berikut percobaan saya mendesain pakaian menggunakan Edraw Max 7.9.Summer Glass CollectionTarikan-tarikan garisnya masih kasar dan belum rapi. Ini disebabkan oleh 2 faktor. Pertama, saya belum terbiasa dengan aplikasinya. Kedua, memang dasarnya saya tidak ahli menggambar. Jadi, begitulah hasilnya. Sederhana dan apa adanya. Tapi, saya yakin, semakin dilatih, desain-desain saya akan semakin berkembang.

Oke, sepertinya saya terlalu asyik curhat. Postingan ini juga sudah terlampau panjang. Jadi, sampai di sini dulu, ya. Lain waktu, insyaAllah, saya akan membahas soal penggunaan Edraw Max 7.9.

Resolusi untuk 2015 yang Lebih Baik

    Hari berganti hari, tahun berganti tahun begitu cepat kita lewati. 2014 berakhir tanpa bisa kita menahan. Kenangan-kenangan yang masih lekat dalam ingatan, pencapaian-pencapaian yang di luar dugaan, kegagalan-kegagalan yang sempat menjatuhkan, suka, duka, senang, sedih dan semua emosi yang pernah terluapkan, tanpa kita sadari, telah menjadikan kita manusia yang terus belajar dari hari ke hari.


   Berada di awal 2015 ini, terkadang, membuat kita teringat dengan kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat di tahun lalu. Penyesalan-penyesalan pun mulai bermunculan. Namun, kita tidak boleh larut dalam penyesalan. Dunia masih terus berputar dan hidup harus tetap berjalan. Lupakan semua kegagalan dan kegalauan di tahun lalu. Kini, saatnya kita melangkah menuju 2015 yang lebih baik. Mari kita buka lembaran baru dan mulai mengisinya dengan hal-hal yang menuntut kita untuk terus berbuat baik ke depannya. Sehingga, di akhir tahun nanti, tidak ada lagi yang harus kita sesali.
   Berbicara mengenai tahun baru, rasanya tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan semangat baru, harapan baru, juga mimpi-mimpi baru. Setiap orang yang ingin hidupnya lebih baik, pasti memiliki mimpi. Termasuk saya. Saya tumbuh dan hidup bersama sejuta mimpi. Dan saya ingin semua mimpi saya bisa berubah menjadi kenyataan. Namun, saya tahu, semuanya membutuhkan proses. Harus ada perjuangan dan pengorbanan untuk bisa mewujudkan semuanya. Di samping itu, agar bisa lebih fokus, saya juga harus bisa mengurutkan mimpi yang mana yang harus saya capai terlebih dahulu. Untuk itu, saya menargetkaan beberapa keinginan saya yang harus terwujud di tahun ini.
   Pertama, saya ingin bisa lulus SBMPTN tahun ini dan menjadi mahasiswa School of Bussiness and Management (SBM) ITB. Sekolah ini adalah salah satu fakultas yang memiliki cukup banyak peminat. Sehingga tingkat kesulitan untuk bisa lolos pun cukup tinggi. Namun, berbekal mimpi yang kuat untuk menjadi seorang entrepreneur, saya yakin saya pasti bisa lolos. Saya akan belajar lebih giat lagi demi mewujudkan mimpi saya ini.
   Kedua, saya ingin mulai merintis usaha di bidang fashion. Saya menargetkan, tahun ini, saya harus sudah memiliki label sendiri dan membuka satu butik di daerah Bandung.
   Ketiga, saya ingin menegaskan diri saya sebagai seorang penulis dengan terus menelurkan karya. Tahun ini, saya memberanikan diri saya untuk menargetkan satu naskah novel saya bisa diterima penerbit dan cerpen-cerpen saya bisa dimuat di berbagai media. Selain itu, saya juga ingin di tahun ini saya bisa menjadi pemenang dari berbagai perlombaan menulis.
   Mungkin, kelihatannya, terlalu berani memasang target seperti di atas. Namun, saya yakin, dengan memasang target begini, setidaknya, saya akan tertuntut untuk memperjuangkannya. Dengan memasang target begini, saya jadi tahu apa saja yang harus saya lakukan di tahun ini. Saya tidak mau satu detik pun terbuang sia-sia dan menghasilkan penyesalan-penyesalan baru.
   Semoga, ketiga target saya bisa tercapai di tahun ini. Semoga tidak ada lagi malas-malasan, bad mood, dan waktu yang terbuang begitu saja. Semangat untuk 2015 yang lebih baik. Yes I Can!!!

Blog yang Terabaikan

    Halloooooo 2015…!!!
   Tak terasa, 2014 sudah berakhir. Padahal, masih banyak sekali yang ingin saya lakukan di tahun yang sudah lewat itu. Masih banyak mimpi yang belum tercapai, rencana yang belum terlaksana dan janji yang belum ditepati. Termasuk janji saya kepada diri sendiri untuk blog ini di pertengahan 2014 lalu. Janji yang hanya saya ucapkan dan tak pernah terealisasi dengan baik.
   Saat itu, saya sempat berjanji untuk mulai menulis di blog ini secara rutin. Saya ingin melatih kemampuan menulis saya dengan cara membiasakan diri untuk terus menulis setiap hari. Tentang apapun itu. Penting atau tidak penting, yang pasti, saya harus menulis. Tapi, pada kenyataannya, susah sekali untuk bisa menjadi istiqomah. Saking susahnya, di tahun 2014 lalu, blog ini hanya terisi oleh dua postingan.
   Terkadang, saya merasa malu sendiri jika melihat blog orang yang sudah memiliki banyak tulisan sejak bertahun-tahun yang lalu. Sedangkan blog saya sendiri masih kosong melompong begini. Padahal, sebenarnya, jika saya rajin, blog ini juga pasti sudah penuh. Karena, saya memiliki akun blogger ini sejak 2012 silam. Namun, ya begitulah, saya masih kurang percaya diri untuk menulis. Saya  masih bingung apa yang harus saya tulis. Dan faktor yang paling berpengaruh sehingga blog saya terabaikan begini adalah rasa malas yang begitu besar.
   Memang sulit menghadapi virus yang satu itu. Karena, virus itu datangnya dari diri kita sendiri. Namun, berbekal keinginan keras untuk menjadi seorang penulis, di awal tahun 2015 ini, saya ingin melawan rasa malas itu. Saya akan jadikan blog ini semacam catatan harian saya. Menuliskan segala hal yang saya lakukan dan saya inginkan.
   Semoga, tahun ini, tidak ada hal-hal yang akan membuat saya mengabaikan blog ini lagi. Sekalipun ada seribu alasan yang akan membuat saya malas, saya akan tetap mengingat satu alasan yang mengharuskan saya untuk tetap menulis. Yaitu, mimpi besar untuk menjadi seorang penulis.   

up